Jumat, 23 Desember 2011

Praktikum Teknologi Bahan

BAB I
PENDAHULUAN
    1. Umum
Pada saat ini sebagian besar bangunan yang kiranya lebih baik murah dari pada baja, tidak memerlukan biaya perawatan seperti baja dan tahan lama, tidak busuk atau tidak berkarat. Pada umumnya masyarakat akan memilih beton. Beton merupakan bahan bangunan yang di hasilkan dari campuran semen portland, pasir, kerikil, dan air beton ini biasanya didalam praktek dipasang bersama batang baja, sehingga disebut beton bertulang. Akan tetapi beton yang sepertinya mudah dibuat, bila tidak dikerjakan atau direncanakan dengan teliti menghasilkan bahan yang kurang baik atau kurang kuat. Oleh karena itu cara – cara membuat beton dipelajari dengan baik. Bahan dasar beton yaitu :
  1. Air
Pengaruh air dalam adukan beton ialah pembentukan pasta semen yaitu mudah dalam pengerjaan (workability) adukan, kuat susut dan keawetan beton untuk waktu yang ditentukan. Perawatan beton untuk menjamin pengerasan yang sempurna. Air biasa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan beton jika air tersebut tidak boleh mengandung minyak asam, alkali, garam, bahan organik dan bahan – bahan lain yang dapat merusak beton maupun tulanganya. Selain itu air tersebut juga harus yang bersih, tidak berbau, dan tidak keruh.
  1. Semen portland
Semen portland merupakan semen hidrolik, artinya bahan yang mengeras bila bereaksi dengan air. Komponen utama semen portland yaitu batu kapur yang mengandung CaO, lempung yang mengandung S1 O2 (silika), Al2O3 (alumina), Fe2O3 (oksida besi). Jika semen portland di campur air akan terjadi dua periode reaksi. Pertama pengikatan yaitu penambahan kekuatan setelah pengikatan selesai. Tipe atau jenis semen ada 5 yaitu :
  • Jenis 1
Jenis 1 disebut pula PC standar. Jenis semenini digunakan untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus, seperti beton yang dibuat pada lingkungan yang sangat korosif.
  • Jenis II
Jenis ini digunakan untuk bangunan yang menggunakan pembetonan secara masal seperti dam dan pilar – pilar jembatan. Panas hidrasi tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu lama. Pada saat pendinginan timbul tegangan – tegangan akibat perubahan panas yang dapat mengakibatkan retak – retak pada bangunan.
  • Jenis III
PC cepat mengeras, cocok digunakan untuk beton pada suhu rendah. Pada PVC ini mengandung kadar C3S dan C3A sangat tinggi.
  • Jenis IV
PC ini menimbulkan panas hidrasi rendah prosentase maksimum untuk C3S 35%, C3A 3% dan C2S minmum 40%.
  • Jenis V
PC ini tahan terhadap serangan sulfat mengeluarkan panas.
  1. Agregat
Agregat merupakan mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dan mengurangi penyusutan beton. Agregat menempati ± 70% volume beton. Agregat batuan terdapat dua golongan, golongan pertama adalah pasir (agregat halus) dengan ukuran maksimum 4,96 mm (tertahan oleh saringan nomor 4). Pasir yang palin baik dalam pembuatan beton adalah pasir sungai (kandungan lumpurnya < 5% bisa dikatakan baik), jika pasir laut sebaiknya tidak digunakan karenamengandung garam yang dapat menyerap kandungan airdari udara. Ciri – ciri pasir laut yaitu pasir selalu basah dan pengembangan pada struktur beton. Kedua butir dengan ukuran butir > 4,76 mm, agregat kasar terbagi menjadi dua yaitu krikil dan batu pecah. Krikil terjadi desintregasi alami dan pengausan batu karang/hasil pemecahan gumpalan batu (conglomerate) yang ikatanya lemah, sedangkan batu pecah diperoleh dengan memecah batu besar. Bila dicampur menjadi satu akan menghasilkan suatu campuran yang plastis sehingga dapat dituangkan kedalam cetakan. Semen portland dan air setelah bertemu akan bereaksi, butir – butir semen portland bereaksi dengan air akan menjadi gel dalam beberapa hari menjadi keras dan saling melekat. Agregat (yaitu pasir dan krikil) tidak mengalami proses kimia melaikan hanya sebagai pengisi saja yaitu bahan yang diletakan.
    1. Sifat Beton
Beton yang baik beton mempunyai kuat tekan tinggi, kuat lekat tinggi, rapat air, tahan ausan, tahan cuaca (panas, dingin, sinar matahari dan hujan), susutan pengerasanya kecil, elastisitas dalam keadaan tinggi dan sebagainya.
Oleh karena itu umumnya pada pengerjaan beton sederhana misalnya gedung kecil tidak bertingkat, eton hanya kuat tekannya bisa untuk membedakan klasifikasinya, misalnya fc = 17 Mpa, fc = 20 Mpa.
    1. Kekuatan Beton
Sifat paling penting dari beton pada umumnya ialah kuat tekan. Kuat tekan beton biasanya berhubungan dengan sifat – sifat lain. Maksudnya bila kuat tekannya tinggi, sifat – sifat yang lain akan baik. Pengukuran kuat tekan beton dilakukan dengan mambuat benda uji pada saat pengadukan beton berlangsung. Benda uji berupa silinder beton ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, benda uji ini kemudian ditekan sampai pecah. Beban takan maksimum yang memecahkan itu dibagi dengan luas penampang silinder dan diperoleh kuat tekan. Nilai kuat tekan dinyatakan dalam Mpa atau Kg/cm. selain faktor – faktor yang lain tidak begitu besar, kuat tekan beton juga tergantung pada f.a.s (faktor air semen) umur beton dan sifat dari agregat.
  1. Faktor Air Semen (f.a.s)
Faktor air semen adalah perbandingan antara berat air dan berat semen didalam campuran adukan beton. Kekuatan beton sangat dipengaruhi oleh f.a.s dan kekuatan beton dapat ditulis menurut Duff Abrams (1919) aebagai berikut
Fc= AB.1,5.X
Dengan keterangan sebagai berikut
Fc = kuat tekan beton pada umur tertentu
X = perbandingan antara berat air dengan semen
A dan B = konstanta

  1. Umur Beton
Kekuatan beton beretambah tinggi dengan bertambahnya umur. Kenaikan beton mula – mula cepat, akan tetapi makin lama laju kenaikan beton itu makin lambat. Oleh karena itu, sebagai standar kekuatan sudah ditetapkan umur beton selama 28 hari. Bila karena suatu hal (misalnya tergesah – gesah) ingin mengetahui beton pada umur kurang dari 28 hari, boleh dilakukan pengujian kuat tekan beton pada umur 7 hari misalny maka hasilnya dibagi dengan faktor tertentu untuk mendapatkan perkiraan kuat tekan beton pada umur 28 hari.
  1. Pengaruh Agregat
Pengaruh agregat terhadap kekuatan beton terutama ialah bentuk, tekstur permukaan, dan ukuran maksimumnya. Pengaruh kekuatan agregat sendiri terhadap kuat tekan beton tidak begitu besar, karena umunya kekuatan agregat lebih tinggi dari kekuatan pasta semennya kecuali pada beton dengan agregat ringan atau beton dengan kuat tekan tinggi.
Penggunaan ukuran butir maksimum agregat dipengaruhi oleh kuat tekan beton dengan berbagai cara. Jika dipakai ukuran agregat maksimum lebih besar maka luas permukaan butir lebih kecil, sehingga letakan antara pasta dan permukaan agregat lebih lemah, akibatnya kekuatan beton lebih rendah. Lagi pula butir agregat yang besar menyebabkan tertahanya proses susutan pada pastanya, yang berarti menimbulkan adanya tegangan internal dalam pasta, sehingga mengurangi kekuatan betonya. Pada struktur betonnya yang ringan umunya dipakai ukuran agregat maksimum 40 mm, namun beton dengan mutu lebih tinggi dipakai ukuran maksimum 20 mm.
    1. Kuat Tekan Beton Yang Di Isyarakan
Kuat tekan beton pada umumnya merupakan faktor penting dalam hitungan rancangan kekuatan struktur. Misalnya untuk menghitung kekuatan balok jembatan terhadap beban kendaraan yang lewat. Kuat tekan beton yang diisyaratkan, misalnya fc’ 17 Mpa, 20 Mpa, 30 Mpa. Mengiatkan resiko yang terjadi jika syarat itu tidak dipenuhi, maka orang tidak akan berani membuat beton dengan kuat tekan yang diisyarakan. Hal ini disebabkan karena kuat tekan betonyang diperoleh tidak dapat tetap, melainkan selalu berfariasi (naik turun). Menurut pengalaman, kuat tekan beton dalam suatu proyek bangunan berfariasi menurut distribusi normal sebagaimana terlihat pada gambar. Menurut ilmu statika, kurva distribusi normal tersebut menyebar dari titik nol sampai tak terhingga. Sehingga tidak ada nilai maksimum yang dapat ditetapkan.
Oleh karena itu definisi fc’ = 20 Mpa tidak boleh ditulis beton dengan kuat tekan minimmum 20 Mpa, karena kemungkuinan terjadi nilai kuat tekan dibawah nilai kuat tekan minimmum tersebut selalu ada. Dalam pedoman beton agar tidak menyalahi ilmu statistika maka kuat tekan beton minimum 20 Mpa tersebut ditulis dengan kata – kata kuat tekan beton yang diisyaratkan f’c 20 Mpa dan didefinisikan sebagai beton dengan kualitas sedemikian hingga jika diambil contohnya dalam jumlah yang banyak, kemungkinan kuat tekan pada benda ujinya yang dibawah kuat tekan karakteristik tersebut hanya banyak 5%. Perlu diingatkan disini bahwa istilah kemungkinan menurut ilmu statistika bukanlah angka pasti. Karena dalam suatu angka pengerjaan beton penyebaran hasil kuat tekanya tidak selalu berupa kurva distribusi normal yang baik, oleh karenanya 5% itu tidak betul jika dipakai untuk mengevaluasi hasil suatu pekerjaan beton. Nilai statistika sebesar 5% tersebut hanya dipakai dalam perhitungan perancangan campuran adukan beton saja, sebagai pedoman kasar dalam menetapkan nilai rata – rata kuat tekan beton yang ditargetkan atau dirancang.

F’c = f max




fc
F’c = f min
1,64 sd
    1. Pengendalian Kualitas
Untuk memperoleh kualitas beton sesuai dengan kuat tekan yang diisyaratkan maka kita tidak akan dapat membuat beton yang kuat tekan rata – rata sama dengan yang diisyaratkan. Oleh karena itu kuat tekan rata – rata beton yang kita buat harus sedikit diatas dari kuat tekan yang diisyaratkan. Walaupun menurut perhitungan tampaknya beton yang dibuat sudah ideal, artinya disatu sisi dapat memenuhi persyaratan dan disisi lain tidak terlalu mahal, namun kontrol terhadap kualitas beton yang benar – benar dibuat di lapangan selama pekerjaan membuat beton berlangsung harus selalu dilakukan pengujian terhadap contoh beton yang diambil dari adukan beton yang dibuat sebelum dituang harus berbentuk ssilinder (diameter 150 mm dan tingi 300 mm), namun jika tidak ada cetakan silinder boleh dibuat dengan bentuk kubus sisi 150 mm. cara – cara pengambilan contoh, pembuatan, perawatan, harus dilakukan secara cepat tepat. 
 
BAB II
PELAKSANAAN PERCOBAAN
    1. Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir
Pasir yang mengandung kadar lumpur yang banyak akan mengandung atau menghasilkan beton yang kualitasnya rendah. Karena akan mengurangi daya ikat antara bahan pengisi beton. Jika kandungan lumpur dalam pasir yang sudah dikocok dan dioven mencapai kurang dari 5% maka pasir tersebut bisa dikatakan baik dan jika lebih dari 5% maka kandungan lumpur harus dijadikan kurang dari 5% dengan cara mencuci atau diayak dengan ayakan ukuran 0,3 pasir yang digunakan dalam pengujian ini adalah pasir yang berasal dari sungai.
  1. Tujuan Percobaan
Menentukan kandungan lumpur dalam air.
  1. Bahan – bahan percobaan
  1. Pasir kering tungku, berat 100gr
  2. Air bersih dari sumur atau PDAM
  1. Alat – alat yang digunakan
  1. Gelas ukur ukuran 1000cc
  2. Timbangan dengan ketelitian halus
  3. Oven suhu dibuat antara 1050-1100 C
  4. Piring alumunium
  5. Desikator (alat pendingin
  1. Pelaksanaan percobaan
  1. Gelas ukur diisi pasir yang sudah dikeringkan dalam oven sebanyak 100gr, kemudian diisi air setinggi ±12 cm dari permukaan pasir, dikocok selama ±1 menit kemudian didiamkan selama ±1 menit supaya pasir turun/mengendap. Air dalam gelas dibuang, bila air masih keruh, diberi air lagi dan dikocok. Demikian seterusnya hingga 5 kali ganti air (sampai air sudah jernih).
  2. Pasir dikeluarkan dari gelas ukur dan diletakan kedalam piring yang telah ditimbang bertnya, kemudian diangin – anginkan.
  3. Setelah pasir agak kering, dimasukan kedalam oven yang suhunya dibuat antara 1050- 1100C selam 36jam. Pasir beserta piring kemudian dimasukan desikator (pendingin) selama 1jam, kemudian ditimbang.
  1. Hasil percobaan
  1. Bahan – bahan yang dipakai
  • Pasir kering tungku asal sungai dengan berat 100gr
  • Air jernih berasal dari PDAM
  1. Alat –alat yang digunakan
  • Gelas ukur ukuran 1000cc
  • Timbangan halus
  • Oven, suhu dibuat 1050 - 1100C
Air mencapai kejernihan setelah 6 kali pengocokan
  • Piring alumunium
  • Desikator, setelah di keluarkan dari desikator pasir kemudian ditimbang.
Hitungan :
Berat pasir mula – mula = 100 gram
Berat pasir + piring setelah keluar dari oven = 172,52 gram
Berat piring kosong = 79,06 gram
Berat pasir setelah keluar oven = 93,46 gram
Kandungan lumpur = 100 – 93.46100 x 100%
= 6,54 %
    1. Percobaan Campuran Adukan Beton
Kekentalan ( konsistensi ) adukan beton sangat tergantung pada berbagai hal, antara lain jumlah dan jenis semen, nilai faktor air semen, jenis dan susunan butir dari agregat serta penggunaan bahan – bahan pembantu.
Kekentalan campuran beton dalam praktek sering menimbulkan perbedaan pendapat. Apakah campuran tersebut cukup kental atau sangat encer. Agar perbedaan pendapat itu menjadi suatu kesepakatan maka dilaksanakan suatu pengujian dengan sample untuk menilai kekentalan suatu campuran beton, pengujian ini disebut pengujian slump.
  1. Tujuan percobaan
Menentukan campuran adukan beton untuk mutu beton yang direncanakan dengan nilai slump tertentu.
  1. Bahan – bahan
  • Semen
  • Pasir
  • Split
  • Air bersih (sumur/ledeng)
  1. Alat – alat yang digunakan
  • Untuk menentukan SSD pasir
  1. Corong kerucut kecil, diameter atas 1,5”diameter 3,5”dan tinggi 3”
  2. Alat tumbuk berat 343,5 gram
  • Untuk mencetak beton
  1. Cetakan kubus p=15cm ,l=15cm,t=15cm dan berat=8,1kg
  • Untuk membuat semen
  1. Alat lumat
  2. Tempat pasta semen
  3. Cetok
  1. Pelaksanaan
  1. Pasir dan split dibuat SSD dengan cara
  1. Pasir dan split direndam selama 24 jam, supaya jenuh air
  2. Permukaan split dibersihkan
  1. Semen portland,pasir dan split ditimbang sesuai dengan kebutuhannya (yang telah dihitung dalam rancangan adukan), air disiapkan sesuai dengan faktor air semen (f.a.s) nya.
  2. Bahan campur kering (pasir,split,semen) dicampur sampai merata.
  3. Ditambahkan air sedikit,lalu diaduk sampai plastis.
  4. Dikontrol nilai Slumpnya dengan cara:
  1. Adukan beton plastis dimasukkan kedalam kerucut Abrams hingga ± 1/3 tinggi kerucut, lalu ditumbuk dengan alat penumbuk sebanyak ± 25 kali.
  2. Adukan beton ditambah hingga mencapai 2/3 tinggi kerucut, ditumbuk ± 25 kali. Kemudian kerucut diisi hingga penuh, ditusuk seperti halnya diatas. Diisi lagi sampai permukaannya rata setinggi kerucut.
  3. Sisa – sisa beton disekitar kerucut dibersihkan, kerucut diangkat vertikal perlahan adukan beton mengalami penurunan.
  4. Penurunan permukaan beton diukur dari puncak kerucut besarnya penurunan lebih kurang sama dengan nilai slump yang dikehendaki.
  1. Silinder dan kubus yang berisi adukan beton masing – masing ditimbang (sebelumnya silinder dan kubus kosong ditimbang terlebih dahulu).
  2. Maka beton dalam kubus dilapisi dengan pasta semen dan kemudian dilapisi minyak pelumas.
  3. Setelah lebih kurang 24 jam, beton dikeluarkankan dari cetakan dan disimpan dalam udara lembab atau dalam air.
  4. Setelah berumur 28 hari beton diuji kekuatan tekannya dengan alat tekan beton.
  1. Hasil percobaan
  1. Bahan – bahan yang dipakai :
  1. Semen Portland, berat : 312,5 kg/m3= C
  2. Pasir asal sungai, berat : 541,2441 kg/m3= D
  3. Krecak/krikil, berat : 1347,25 kg/m3= E
  4. Air asal PDAM, volume : 800 ml
  5. Perbandindingan volume : PC : PS : KR = C/C : D/C : E/C
  6. Perbandingan berat : 1 : 1,731 : 4,31
Jumlah = 1+1,731+4.31
           = 7.04
  1. Alat – alat yang digunakan :
  1. Corong kerucut Abrams dengan diameter atas 10 cm, diameter dibawah 20 cm dan tingginya 30 cm.
  2. Alat penumbuk dengan diameter 16 mm dan panjang 60 cm.
  3. Cetok dan tempat mengaduk.
  1. Hasil :
Nilai slump = 10 cm, faktor air semen (f.a.s) = 0,6
    1. Pengujian Kuat Desak Beton
  1. Tujuan percobaan
Menetapkan kuat desak beton dengan mesin desak dan berat tiap meter kubik beton.
  1. Benda uji dan alat – alat
  1. Beton kubus
  2. Alat desak beton
  3. Kaliper
  4. Timbangan
  1. Pelaksanaan
  1. Satu persatu benda diuji tekanannya dengan mesin desak
  2. Pembebanan dihentikan apabila jarum pada mesin kembali ke nol
  1. Hasil percobaan
  1. Jenis/asal bahan susun
  2. Tanggal pembuatan : 14 – 12 – 2009
  3. Tanggal pengujian : 11 – 01 – 2010
  4. Mesin yang dipakai
  5. Ukuran Kubus rata – rata ditengah :0,75
  6. Tinggi kubus :15
  7. Berat Kubus :10 kg
  8. Berat jenis Kubus :2400 kg/m3
  9. Umur : 28 hari
  10. Beban maksimum hasil bacaan mesin :
  11. Kekuatan perkiraan pada 28 hari :

  1. Hasil percobaan
Umur beton (hari)
3
7
14
21
28
Semen biasa





Semen kekuatan awal tinggi






BAB III
ANALISIS PERCOBAAN

    1. Analisa Percobaan Kandungan Dalam Lumpur
  1. Berat pasir mula – mula = 100 gram
  2. Berat pasir + piring setelah dioven = 172,52 gram…..(a)
  3. Berat piring kosong = 79,06 gram………(b)
  4. Berat pasir = a – b
= 172,52 gr – 79,06 gr
= 93,46 gram………(c)
  1. Kandungan lumpur = 100-C100 × 100 %
=100-93,46100 × 100 %
= 6,54 %
  1. Karena kandungan dalam pasir mencapai 6,54 % maka pasir tersebut dapat dikatakan kurang baik sehingga harus dilakukan pencucian agar kandungan lumpur dalam pasair tidak lebih dari 5 %.
No
Uraian
Tabel Grafik / perhitungan
Nilai
1
Kuat tekan karakterisitiks
Ditetapkan
25 N/mm3(28hari)
2
Devisiasi standar ( s )
Ditentukan tabel 1 (lamp) atau PBI 71
Tabel 4.5.1

6,5 N/mm3
3
Nilai tambah ( Margin )
1,64 × σ
10,66 N/mm3
4
Kuat tekan rata – rata yang hendak dicapai
  1. + (3)
(PBI 71 NI-2)
35,66 N/mm3
5
Jenis semen
Ditetapkan
S 475/biasa
6
jenis agregat - Kasar
- Halus
Ditetapkan
Ditetapkan
Batu pecah
alami
7
faktor air semen bebas
Tabel 2 lamp & Grafik lamp.
0,56
8
Faktor air semen maksimium
Tabel 3 lamp atau PBI 71 NI-2 tabel 4.3.4
0,6
9
Slump
Ditetapkan tabel 4 lamp atau PBI 71 NI-2 tabel 4.4.1

100 mm
10
Diameter agregat maksimum
Ditetapkan
atau PBI 71
40 mm
11
Kadar air bebas
Tabel 5 lamp
175 : 0,56
175 kg/m3
12
Kadar semen
(11) : (7)
321,5 kg/m3
13
Kadar semen minimum
Tqbel 3 lqmp. atau PBI 71 tabel 4.3.4
275 kg/m3
14
Faktor air semen yang disesuaikan
Dipilih dari langkah 12 dan 13 yang paling besar nilainya.
312,5 kg/m3
15
Susunan besar butir agregat halus
Grafik 3.a – grafik 3.c
Zona 2
16
Persen bahan lebih halus 4,8 mm
Tabel 7 lamp
28,66%
17
Persen Krikil
Tabel 7 lamp
1,3%
18
Brrat jenis relatif agregat ( kering permukaan )
Dihitung
2,6
19
berat jenis beton
Grafik 2 lamp
2376 kg/m3
20
Kadar Agregat gabungan
(19) – (12) – (11)
1888,5 kg/m3
21
Kadar Agregat hakus
(16) – (20)
541,2441 kg/m3
22
Kadar Agregat kasar
(20) – (21)
1347,25 kg/m3
    1. Analisa Percobaan Pengujian Kuat Desak Beton
  • Untuk 1 m3 beton (berta betonnya 10 kg) dibutuhkan perbandingan berat antara semen, pasir dan kerikil, yaitu :
Semen (C) : pasir (D) : kerikil (E)
312,5 kg/m3 541,2441 kg/m3 1347,25 kg/m3
  • PC : PS : KR
  • C/C : D/C : E/C
312,5312,5 : 541,2441312,5 : 1347,25312,5
1 : 1,731 : 4,31
Jumlah = 1 + 1,731 + 4,31
= 7,04
Untuk berat masing – masing agregat
  1. Semen = [11+1,731+4,31]×10kg
= [17,04]× 10kg
= 1,42 kg
  1. Pasir = [1,7311+1,731+4,31]× 10kg
=[1,7317,04]× 10kg
=2,45 kg
  1. Kerikil = [4,311+1,731+4,31]× 10kg
=[4,317,04]× 10kg
= 6,12 kg
  1. Air = f.a.s × berat semen
= 0,56 × 1,42
= 0,79 liter

BAB IV
KESIMPULAN
Dalam hasil percobaan maka kami dapat sampaikan beberapa kesimpulan hal yaitu, sebagai berikut :
  • Dalam campuran beton, agregat (pasir, kerikil) harus dalam keadaan SSD agar agregat tidak menyerap air campuran, sehingga faktor air semen (f.a.s) tidak berpengaruh.
  • Jika selisih tinggi pasir, kerikil pada pengujian SSD kurang dari ¼ tingi kerucut, maka pasir atau kerikil dalam keadaan basah/terlalu basah sehingga bila ditambah air pada adukan tersebut dapat menjadikan adukan bertambah encer. Hal ini kurang baik dilaksanakan karena pasir akan mengendap dan terpisah dari pastanya yang menyebabkan daya ikatantara bahan – bahan kurang kuat.
  • Jika selisih tingi pasir, kerikil pada pengujian SSD kurang dari 1/3 tinggi kerucut, berarti bahan bantuan terlalu kering sehingga dapat menghisap air, akibatnya adukan beton terlalu kental. Hal ini kurang baik karena dalam proses pembentukan beton dibutuhkan air yang labih banyak.
  • Kandungan lumpur terhadap pasir akan mempengaruhi daya rekat semen terhadap agregat.
  • Apabila dikoreksi dengan syarat ayakan PBI 71 maka pasir tersebut memenuhi syarat.
  • Air untuk membuat beton dan perawatan beton bertulang harus terhindar dari bahan atau senyawa kimia yang dapat merusak beton maupun tulangan.
  • Perbandingan berat air, semen, pasir berat kerikil perlu diperhatikan pada saat pembuatan beton karena (f.a.s) sangat berpengaruh terhadap sifat – sifat beton.






TUGAS PRAKTIKUM
TEKNIK BAHAN KONSTRUKSI

Laporan Ini Di Susun Untuk Memenuhi
Tugas Praktikum Teknik Bahan Konstruksi

Pengampu :
ARIF KURNIAWAN SUKMONO, ST. MT






Disusun Oleh :
Nama : TRI BAGUS WIDODO
Nim : 0603010003





FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2010
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
FAKULTAS TEKNIK
Jl. Raya Dukuhwaluh PO Box 202 Purwokerto 53182
Tlp. (0281) 636751, 630463 Pesawat 130, Fax (0281) 637239


LEMBAR ASISTENSI

Diberikan kepada,
Nama mahasiswa : Tri Bagus Widodo
Nim : 0603010003
Hari/Tanggal
Keterangan
Paraf
















Purwokerto, Januari 2010


Arif Kurniawan Sukmono, ST.
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK BAHAN KONSTRUKSI

Dengan ini menyatakan bahwa laporan praktikum irigasi yang disusun oleh:
Nama : Tri Bagus Widodo
Nim : 0603010003
Jur/Prodi : Teknik Sipil
Fakultas : Teknik
Telah telah disetujui dan telah memenuhi syarat untuk digunakan dalam melaksanakan laporan praktikum irigasi dan bangunan air ini.











Purwokerto, Januari 2010
Diperiksa oleh
Pembimbing



Arif Kurniawan Sukmono, ST.

KATA PENGANTAR
Syukur alkhamdulilah kami panjatkan kehadirat allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Teknik Bahan Konstruksi yang telah kami laksanakan melalui bimbingan dan pembelajaran dari pengampu bersangkutan.
Setelah kami melaksanakan dan menyelesaikan praktikum Teknik Bahan Konstruksi yang meliputi pemeriksaan kandungan lumpur dalam pasir, analisa saringan, percobaan campuran adukan beton, pengujian Slump, maka kami dapat menyusun laporan praktikum tersebut meskipun dengan keterbatasan – keterbatasan yang ada.
Dalam penyusunan laporan ini, kami banyak mendapatkan bantuan, kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu kami sampaikan trimakasih kepada :
  1. Bpk Arif Kurniawan Sukomo, ST. Selaku dosen pengampu, pembimbing, dosen praktikum Teknik Bahan Konstruksi.
  2. Bpk Lili selaku pembimbing didalam pengerjaan, penyelesaian praktikum teknik bahan konstruksi.
  3. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun laporan ini, semoga allah SWT memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua. Dikarenakan keterbatasan kami, mungkin laporan ini jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangannya. Untuk itu kami selaku penulis mohon maaf yang sebesar – besarnya dan kami mohon kritik dan saran yang dapat membangun atau memperbaikinya supaya lebih baik lagi menyusun laporan praktikum kedepannya.
Purwokerto, 10 Januari 2010
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judu i
Lembar Asistensi ii
Lembar Pengesahan……………………………………………………………….. iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi v
BAB I PENDAHULUAN
    1. Umum 1
    2. Sifat Beton 3
    3. Kuat Tekan Beton 4
    4. Kuat Tekan Beton Yang Di Isyaratkan 6
    5. Pengendalian Kualitas 7
BAB II PELAKSAAN PERCOBAAN
    1. Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir 8
    2. Percobaan Campuran Adukan 10
BAB III ANALISIS PERCOBAAN
    1. Analisis Percobaan Kandungan Dalam Lumpur 14
    2. Analisa Percobaan Pengujian Kuat Desak 16
BAB IV KESIMPULAN 17
Lampiran - lampiran













LAMPIRAN - LAMPIRAN





Tidak ada komentar:

Posting Komentar